URGENSI GURU PROFESIONAL DALAM MENDONGKRAK KUALITAS PENDIODIKAN DI INDPONESIA

URGENSI GURU PROFESIONAL DALAM MENDONGKRAK KUALITAS PENDIODIKAN DI INDONESIA

RAHMASARI MEILA FEBIANTI
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
email : rahmasarimeilafebianti@gmail.com

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Untuk mewujudkan tujuan pendidikan di Indonesia salah satu faktor yang paling penting dan sangat mempengaruhi adalah keprofesionalan guru di dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Guru merupakan pekerjaan profesi, karenanya LPTK telah menerapkan kurikulum yang berdasarkan kompetensi. Kompetensi guru mencakup empat hal penting yaitu kompetensi personal, kompetensi profesional, kompetensi sosial, dan kompetensi paedagogik. Dalam hubungannya dengan tenaga profesional kependidikan, kompetensi guru sangat diperlukan untuk memenuhi spesifikasi dalam pelaksanaan tugas-tugas kependidikan yang mencakup karakteristik-karakteristik prasyarat yang meliputi: relevan dengan pengajaran dan berorientasi pada kualitas. Disamping itu pula harus ada penghargaan dan pengakuan yang tinggi kepada seorang guru agar dapat menghasilkan pendidikan yang berkualitas.
Mendidik dan pendidikan adalah dua hal yang saling berhubungan. Dari segi bahasa, mendidik adalah kata kerja sedangkan pendidikan adalah kata benda. Kalau kita mendidik, kita melakukan suatu kegiatan atau tindakan. Kegiatan mendidik menunjukan adanya yang mendidik di suatu pihak dan yang di didik di lain pihak.dengan kata lain, mendidik adalah suatu kegiatan yang mengandung komunikasi antara dua orang atau lebih. Mendidik adalah mempengaruhi anak dalam usaha membimbingnya supaya menjadi dewasa. Usaha membimbing adalah usaha yang disadari dan dilaksanakan dengan sengaja. Mendidik adalah membantu anak dengan sengaja agar dia menjadi manusia dewasa, susila, bertanggung jawab, dan mandiri. Dewasa maksudnya dapat bertanggung jawab terhadap diri sendiri secara paedagogis, biologis, psikologis, dan sosiologis. Pendidikan adalah proses seseorang mengembangkan kemampuan, sikap, dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya di dalam masyarakat tempat dia hidup, proses sosial yaitu orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang dari sekolah), sehingga dia dapat memperoleh atau mengalami perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individu yang optimal. 
Menurut UU Sistem Pendidikan nasional No.20 Tahun 2003 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Berdasarkan pendapat diatas, maka yang disebut pendidikan menurut saya adalah suatu proses interaksi yang ditandai oleh keseimbangan antara pendidik dengan peserta didik yang didalamnya terdapat sebuah tujuan yang hendak dicapai yaitu dapat berupa tingkat kedewasaan, mengembangkan kepercayaan diri, mengembangkan rasa ingin tahu serta meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan yang nantinya dapat menjadi sebuah pegangan dari seorang peserta didik untuk menjalankan kehidupannya dimasa yang akan datang. Hakekat pendidikan tidak akan terlepas dari hakekat manusia sebab urusan utama pendidikan adalah manusia. Pada dasarnya pancasila sebagai filsafat hidup bangsa Indonesia memberikan pedoman bahwa kebahagiaan manusia akan tercapai apabila kehidupan manusia itu didasarkan atas keselarasan dan keseimbangan, baik dalam hidup manusia sebagai pribadi, dalam hubungan manusia dengan masyarakat, dalam hubungan manusia dengan alam, dalam hubungan manusia dengan Tuhannya, maupun dalam mengejar kemajuan lahiriah maupun kebahagiaan rokhaniah. Kekuatan manusia pada hakekatnya tidak hanya terletak pada kemampuan fisiknya ataupun kemampuan jiwanya semata-mata, melainkan terletak pada kemampuannya untuk bekerjasama dengan manusia lainnya. Dengan manusia lainnya dalam masyarakat itulah manusia dapat menciptakan kebudayaan, yang pada akhirnya dapat membedakan manusia dengan makhluk hidup yang lain yang mengantarkan umat manusia pada tingkat, mutu, harkat dan martabatnya sebagaimana manusia yang hidup pada zaman sekarang dan zaman yang akan datang. Wawasan yang dianut oleh pendidik dalam hal ini guru, tentang manusia akan mempengaruhi strategi atau metode yang digunakan dalam melaksanakan tugasnya. Karena pada dasarnya pendidikan harus dilihat sebagai proses dan sekaligus sebagai tujuan. Asumsi dasar pendidikan tersebut memandang pendidikan sebagai kegiatan kehidupan dalam masyarakat untuk mencapai perwujudan manusia seutuhnya yang berlangsung sepanjang hayat. Tantangan utama di dalam pendidikan adalah menentukan cara-cara yang tepat di dalam menterjemahkan tujuan umum yang dimaksud ke dalam perbuatan pendidikan. Dengan demikian hakekat pendidikan pada prinsipnya adalah : 
1. Pendidikan merupakan proses interaksi manusia yang ditandai oleh keseimbangan antara kedaulatan subyek didik dengan kewibawaan pendidik. Dalam kaitannya dengan tingkat perkembangan peserta didik memerlukan adanya interaksi yang bersifat komunikatif. Perubahan dan perkembangan sifat maupun karakter peserta didik itu sendiri sangatlah ditentukan oleh kewibawaan dari seorang guru sebagai pendidik, oleh karena itu guru dituntut supaya mampu menajga kewibawaannya. 
2. Pendidikan merupakan usaha penyiapan subyek didik menghadapi lingkungan hidup yang mengalami perubahan yang semakin pesat. Perkembangan era globalisasi saat ini yang ditandai dengan banyaknya kesenjangan sosial yang terjadi di lingkungan masyarakat menuntut peserta didik harus siap untuk menerima perubahan itu. Dalam hal ini, seorang guru dituntut agar mampu menyiapkan segala hal yang diperlukan peserta didik yang nantinya dapat menajdikan peserta didik tersebut siap dan peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi sangat pesat di masyarakat sekarang ini. 
3. Pendidikan meningkatkan kualitas kehidupan pribadi dan masyarakat. Pendidikan yang dalam hal ini suatu kegiatan belajar harus mampu mendorong manusia untuk terlibat dalam proses mengubah kehidupannya kearah yang lebih baik. Dengan demikian, pendidikan berfungsi untuk meningkatkan kualitas hidup pribadi dan masyarakat. Kemiskinan dan kebodohan merupakan beberapa hal sebagai akibat dari rendahnya kualitas pendidikan baik yang sifatnya pribadi maupun kelompok. Dengan pendidikan terbaik dan terarah sesuai dengan tujuan tujuan pendidikan, maka secara teoretis maupunpraktek nantinya dapat mengubah kualitas kehidupan yang buruk pada diri masig-masing individu maupun pada masyarakat agar menjadi lebih baik. 
4. Pendidikan berlangsung seumur hidup. Dalam hal ini berarti bahwa usaha pendidikan sudah dimulai sejak manusia itu lahir dari kandungan ibunya sampai ia tutup usia, sepanjang ia mampu untuk menerima pengaruh dan dapat mengembangkan dirinya. Jadi pendidikan sebagai proses menjadikan subyek didik untuk menjadi dirinya sendiri, proses ini berlangsung sepanjang hayat. Dengan demikian tidak ada batasan seseorang menuntut ilmu atu melakukan proses belajar, seperti pepatah mengatakan “carilah ilmu sampai ke liang lahat”. 
5. Pendidikan merupakan kiat dalam menerapkan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dan teknologi bagi pembentukan manusia seutuhnya. Di dalam kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik ada tiga ranah yang harus untuk dapat membentuk karakter manusia yang seutuhnya yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Gambaran kualitas pendidikan di Indonesia itu ibarat seorang perempuan tua berwajah gelap dan keriput. Salah satu matanya dicucuk ujung pensil dan mengeluarkan air mata. 
Kesannya sangat kejam. Tetapi, itulah gambaran pendidikan kita sangat kejam. Pendidikan hanya menghasilkan air mata. Gambar yang menjadi sampul majalah Basis edisi 07 tahun 2000 itu menggambarkan tidak berdayanya konsep, sistem dan terutama pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (praksis pendidikan) di negeri ini yang dalam hal ini adalah guru yang benar-benar profesional. Faktor-faktor yang ditemukan sangat ampuh memberikan efek terhadap prestasi belajar menurut beberapa studi di Indonesia adalah faktor guru, buku pelajaran, proses pendidikan, manajemen sekolah, besarnya kelas-sekolah, dan faktor keluarga (Ace suryadi, 1993:111). Komponen guru dan buku pelajaran telah memperoleh perhatian yang cukup besar dari Bank Dunia sejak tahun 1975. Namun kenyataan menunjukkan lain, bahwa penggunaan buku pelajaran belum tampak memberikan daya beda yang berarti bagi peningkatan prestasi belajar siswa, demikian juga strategi penataan guru yang dilakukan selama ini belum tampak keberhasilannya bagi peningkatan prestasi tersebut. 
Etika kerja, kode etik, dan etos kerja merupaka tiga hal yang saling terkait dan mempunyai peranan besar dalam mewujudkan proses dan kualitas kerja. Efektifitas dan efisiensi suatu pekerjaan akan banyak tergantung pada tiga hal tersebut. Oleh karena itu, setiap guru sudah seharusnya memahami, menghayati, dan mengamalkan ketiga hal itu dalam keseluruhan kinerjanya. Di dalam proses belajar mengajar, guru sebagai pengajar dan siswa sebagai subyek belajar dituntut adanya profil kualifikasi tertentu dalam hal pengetahuan, kemampuan, sikap dan tata nilai serta sifat-sifat pribadi agar proses iti dapat berlangsung dengan efektif dan efisien. Etika pada hakekatnya merupakan dasar pertimbangan dalam pembuatan keputusan tentang moral manusia dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Secara umum, etika dapat diartikan sebagai suatu disiplin yang filosofis yang sangat diperlukan dalam interaksi sesama manusia dalam memilih dan memutuskan pola-pola perilaku sebaik-baiknya berdasarkan timbangan moral-moral yang berlaku. 
Dengan adanya etika, manusia dapat memilih dan memutuskan perilaku yang baik sesuai norma-norma moral yang berlaku. Dengan demikian, akan tercipta hubungan antar manusia yang baik dan harmonis seperti saling menghormati, saling menghargai, tolong menolong dan sebagainya. Dalam dunia pekerjaan, etika sangat diperlukan sebegai landasan perilaku kerja para guru dan tenaga kependidikan lainnya. Etika kerja lazimnya dirumuskan atas kesepakatan para pendukung pekerjaan itu dengan mengacu pada sumber-sumber dasar nilai dan moral tersebut. Rumusan etika kerja yang disepakati itu disebut kode etik. Kode etik dalam arti sederhana adalah aturan atau norma berperilaku. Dalam arti yang lebih luas kode etik adalah ketentuan-ketentuan yang mengatur tingkah laku seseorang (Suara Guru, 1999:14). 
Dengan demikian kode etik adalah ketentuan atau norma-norma yang mengatur tingkah laku seseorang dalam hubungannya dengan profesinya atau jabatannya yang disepakati bersama, syah, dan berfungsi sebagai pendorong masyarakat dan sebagai alat kontrol. Dengan kode etik itu pula, perilaku etika para pekerja akan dikontrol, dinilai, diperbaiki, dan dikembangkan. Adapun sifat-sifat yang yang digolongkan kedalam moral-etika atau budi pekerti yang luhur yang wajib dimiliki oleh guru adalah bisa berlaku jujur, bersikap adil terhadap siapa pun, cinta kepada kebenaran, bertindak arif dan bijaksana, suka memaafkan, tidak pembenci dan pendendam, mau mengakui kesalahan sendiri, ikhlas berkorban, tidak mementingkan diri sendiri, serta menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan tercela. Disamping seorang guru dituntut memiliki sifat yang baik, guru juga dituntut pula memiliki sikap-sikap yang baik adalah bersikap sopan santun, bersikap tangkas dan antusias, bersikap optimistis, mempunyai pandangan ke depan dan luas, mempunyai perhatian penuh kepada siswa, mempunyai perhatian penuh terhadap kegiatan-kegiatan kelas, bertabiat jujur dan sabar, berlaku ramah kepada siswa, selalu rapi dalam berpakaian, bersikap disiplin, suka membantu persoalan-persoalan siswa, serta dapat bekerja cermat dan teliti. Kata etos bersumber pada pengertian yang sama dengan etika, yaitu sumber-sumber nilai yang dijadikan rujukan dalam pemilihan dan keputusan perilaku. Etos kerja lebih kepada kualitas kepribadian pekerja yang tercermin melalui unjuk kerja secara utuh dalam berbagai dimensi kehidupannya. Kualitas unjuk kerja dan hasil kerja banyak ditentukan oleh kualitas etos kerja. Sebagai suatu kondisi internal, etos kerja mengandung beberapa unsur antara lain: disiplin kerja, sikap terhadap pekerjaan, dan kebiasaan-kebiasaan bekerja. Dalam usaha untuk mencapai tujuan pembelajaran yang maksimal maka perlu diciptakan adanya sistem lingkungan (kondisi) belajar yang lebih kondusif. Hal ini berkaitan dengan mengajar. Mengajar diartikan sebagai suatu usaha pencapaian sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Sistem lingkungan belajar itu sendiri terdiri atau dipengaruhi oleh berbagai komponen yang masing-masing akan saling mempengaruhi. Komponen-komponen itu misalnya tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, materi yang inging diajarkan, guru dan siswa yang memainkan peranan serta dalam hubungan sosial tertentu. Jadi untuk mencapai tujuan belajar tertentu tertentu harus diciptakan sistem lingkungan belajar yang tertentu pula. Tujuan belajar untuk pengembangan nilai afeksi memerlukan penciptaan sistem lingkungan yang berbeda dengan sistem yang dibutuhkan untuk tujuan belajar gerak dan begitu pula sebaliknya.
KUALITAS GURU DAN PENDIDIKAN 
Berbicara mengenai mengapa mutu guru rendah jawaban Jawaban pokoknya adalah karena gaji guru rendah. Karena gaji guru rendah, generasi muda yang tertarik menjadi calon guru umumnya bukan calon-calon terbaik. Calon-calon terbaik akan bersekolah di sekolah lanjutan tingkat atas favorit atau berkuliah di jurusan favorit pula misalnya kedokteran, teknik, hubungan internasional, atau lainnya. Lulusan nonkependidikan yang kemudian tertarik menjadi guru dengan mengambil program akta mengajar dapat dipastikan juga bukan lulusan terbaik. Mereka umumnya mengambil program akta mengajar karena kesulitan mencari pekerjaan di luar profesi guru. Sebaliknya, apabila gaji guru tinggi para generasi muda yang tertarik menjadi guru pastilah pilihan. Oleh karena calon yang bersekolah dan berkuliah di sekolah guru dan lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) adalah calon-calon yang berkualitas tinggi (lulusan terbaik), dan tentu dengan kepribadian yang terbaik, maka dapat dipastikan akan diperoleh guru-guru yang berkualitas. 
Guru yang berkualitas sejak awal tidak perlu ditatar atau diikutkan dalam berbagai kegiatan in service pun mereka akan mampu memahami dan menerjemahkan pesan-pesan kurikulum dengan cerdas. Mereka juga akan mampu mencari dan menemukan atau mengembangkan bahan ajar dan media pembelajaran yang berkualitas, sekalipun tanpa mengikuti penataran. Guru yang profesional juga akan mampu mengembangkan tes dan sistem pengujian yang tepat. Guru yang profesional juga akan mau terus mengembangkan wawasannya untuk menunjang profesinya. Sebaliknya, calon guru yang selama ini berasal dari generasi muda kelas bawah (karena gaji guru rendah), walaupun diikutkan dalam berbagai kegiatan penataran dan lokakarya, mereka akan tetap tidak beranjak. Karena secara akademis kemampuan dasar mereka memang lemah.
Pengertian Profesionalisme Guru – Istilah profesionalisme guru tentu bukan sesuatu yang asing dalam dunia pendidikan. Secara sederhana, profesional berasal dari kata profesi yang berarti jabatan. Orang yang profesional adalah orang yang mampu melaksanakan tugas jabatannya secara mumpuni, baik secara konseptual maupun aplikatif. Guru yang profesional adalah guru yang memiliki kemampuan mumpuni dalam melaksanakan tugas jabatan guru.
Bila ditinjau secara lebih dalam, terdapat beberapa karakteristik profesionalisme guru. Rebore (1991) mengemukakan enam karakteristik profesionalisme guru, yaitu: (1) pemahaman dan penerimaan dalam melaksanakan tugas, (2) kemauan melakukan kerja sama secara efektif dengan siswa, guru, orang tua siswa, dan masyarakat, (3) kemampuan mengembangkan visi dan pertumbuhan jabatan secara terus menerus, (4) mengutamakan pelayanan dalam tugas, (5) mengarahkan, menekan dan menumbuhkan pola perilaku siswa, serta (6) melaksanakan kode etik jabatan.
Sementara itu, Glickman (1981) memberikan ciri profesionalisme guru dari dua sisi, yaitu kemampuan berpikir abstrak (abstraction) dan komitmen (commitment). Guru yang profesional memiliki tingkat berpikir abstrak yang tinggi, yaitu mampu merumuskan konsep, menangkap, mengidentifikasi, dan memecahkan berbagai macam persoalan yang dihadapi dalam tugas, dan juga memiliki komitmen yang tinggi dalam melaksanakan tugas. Komitmen adalah kemauan kuat untuk melaksanakan tugas yang didasari dengan rasa penuh tanggung jawab.
Lebih lanjut, Welker (1992) mengemukakan bahwa profesionalisme guru dapat dicapai bila guru ahli (expert) dalam melakasnakan tugas, dan selalu mengembangkan diri (growth). Glatthorm (1990) mengemukakan bahwa dalam melihat profesionalisme guru, disamping kemampuan dalam melaksanakan tugas, juga perlu mempertimbangkan aspek komitmen dan tanggung jawab (responsibility), serta kemandirian (autonomy)..
Membicarakan tentang profesionalisme guru, tentu tidak bisa dilepaskan dari kegiatan pengembangan profesi guru itu sendiri. Secara garis besarnya, kegiatan pengembangan profesi guru dapat dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu: (1) pengembangan intensif (intensive development), (2) pengembangan kooperatif (cooperative development), dan (3) pengembangan mandiri (self directed development) (Glatthorm, 1991).
Pengembangan intensif (intensive development) adalah bentuk pengembangan yang dilakukan pimpinan terhadap guru yang dilakukan secara intensif berdasarkan kebutuhan guru. Model ini biasanya dilakukan melalui langkah-langkah yang sistematis, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan evaluasi dan pertemuan balikan atau refleksi. Teknik pengembangan yang digunakan antara lain melalui pelatihan, penataran, kursus, loka karya, dan sejenisnya.
Pengembangan kooperatif (cooperative development) adalah suatu bentuk pengembangan guru yang dilakukan melalui kerja sama dengan teman sejawat dalam suatu tim yang bekerja sama secara sistematis. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kemampuan profesional guru melalui pemberian masukan, saran, nasehat, atau bantuan teman sejawat. Teknik pengembangan yang digunakan bisa melalui pertemuan KKG atau  MGMP/MGBK. Teknik ini disebut juga dengan istilah peer supervision atau collaborative supervision.
Pengembangan mandiri (self directed development) adalah bentuk pengembangan yang dilakukan melalui pengembangan diri sendiri. Bentuk ini memberikan otonomi secara luas kepada guru. Guru berusaha untuk merencanakan kegiatan, melaksanakan kegiatan, dan menganalisis balikan untuk pengembangan diri sendiri. Teknik yang digunakan bisa melalui evaluasi diri (self evaluation) atau penelitian tindakan (action research).
DAFTAR PUSTAKA 
Hamalik, Oemar. 2003. Pendidikan Guru. Jakarta: Bumi Aksara 
Mandaru, MZ. 2005. Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari (Potret Buruk Pendidikan di Indonesia). Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. 
Mulyasa, E. 2006. Menjadi Guru Profesional (Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan). Bandung: Remaja Rosdakarya. 
Munib, Achmad. 2005. Pengantar Ilmu Pendidikan. Semarang: UPT MKK UNNES Setia Tunggal, Hadi. 2006. 
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Th 2003 Beserta Aturan Pelaksanaannya. Jakarta: Harvarindo. Syeikh Ibrahim bin Ismail. 1993. 
Syarah Ta’lim Muta’alim Pendekatan Proses Belajar Mengajar. Semarang: Toha Putra. 
Suryadi, Ace. 1993. Analisis Suatu Kebijakan Pendidikan Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya. 
Sutomo. 1997. Profesi Kependidikan. Semarang: IKIP Semarang Press. Suyono, 2005. Meningkatkan Mutu guru, Darimana dimulai?. 
Http://www.kompas.com. Diakses 13 Juni 2007. --------, 2002. Jarang Ikut latihan Kualitas Guru Rendah. 
Http://www.indomedia.com. Diakses 14 Juni 2007. Uzer Usman, Moh. 2004. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama